Friday, September 6, 2019

menguatkan kesadaran kritis transformatif pada mahasiswa di era revolusi industri 4.0

artikel ini adalah rancangan awal untuk mendorong nuansa kritisisme mahasiswa era komunikasi dan informatika, diberikan pada kuliah perdana (studium general STAI-Ma'arif Kendal Ngawi), sebagai bentuk artikel yang masih kurang matang, dibuka kritik dan saran demi kebaikan bersama



Menguatkan Kesadaran Kritis Transformatif Pada Mahasiswa Di Era Industri 4.0
Moh. Irmawan Jauhari
Pendahuluan
Mahasiswa dalam berbagai agenda nasional dan di banyak ruang kemasyarakatan memainkan peran penting sebagai avant garde atau pelopor. Misalkan, peristiwa bersejarah yang akan tetap dikenang dalam ingatan dan benak bangsa-negara Indonesia, bila para pemuda mengadakan konggres pemuda pertama tahun 1926 dan konggres pemuda kedua 1928 yang menghasilkan sumpah pemuda. Tentunya, pemuda dan pemudi yang hadir dalam konggres tersebut bukanlah pemuda yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Dimana untuk merumuskan visi misi serta orientasi pemuda dan bahkan mampu melahirkan sumpah pemuda, para pemuda wajib memiliki basis pengetahuan yang baik. Tidak hanya pengetahuan yang lahir dari tanah Eropa, namun juga dan khususnya, pengetahuan yang bersumber dari khazanah intelektualitas nusantara. Pemuda-pemuda yang ikut konggres, atau yang mewakili para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, adalah kaum terpelajar yang tergabung dalam berbagai organisasi. Mereka peduli atas keadaan bangsa yang berada dalam suasana kolonialisme dan imperialisme, mereka sadar bahwa harus ada upaya yang sistematis dan terorganisir untuk melakukan perubahan. Dan mereka melakukan dari hal yang paling sederhana, merumuskan sumpah pemuda untuk menjadi bekal bagi generasi mendatang.
Dewasa ini, dengan semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, menuntut percepatan juga di berbagai bidang. Tuntutan untuk semakin tanggap suasana dan memiliki jaringan bagus dibutuhkan bagi siapapun untuk survive di era industri 4.0. Dorongan-dorongan tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir, idealisme, dan sampai pada perilaku mahasiswa. Tidak mengherankan apabila kemudian banyak mahasiswa yang kurang peduli terhadap lingkungan dan masa depan karena mereka terjebak dalam mainstream permukaan revolusi industri 4.0, akan tetapi untuk memahami mengapa ada perubahan zaman dan dampaknya bagi kehidupan, mahasiswa dewasa ini kurang memiliki kepekaan.
Tulisan ini disampaikan pada kuliah perdana dengan harapan mampu mendorong mahasiswa untuk lebih progres di dalam perkuliahan dan kegiatan lainnya.
Mahasiswa, karakter, dan identitas sosial
Mahasiswa adalah sebuat predikat bagi seseorang yang menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa, berarti memiliki ciri yang bisa digunakan sebagai indentitas sosial ketika berada dalam masyarakat. Dengan ciri atau karakter tersebut, mahasiswa mendapatkan tempat tersendiri mengingat berbagai hal. Pertama, tidak semua orang bisa menembus perguruan tinggi. Kedua, berbagai proses mampu menentukan karakter mahasiswa. Dan ketiga, tanggung jawab atau identitas sosial yang didapat sebagai akibat predikat menjadi mahasiswa.
Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan tinggi adalah sebuah fakta. Meskipun pemerintah memberikan berbagai kemudahan untuk siapapun mengakses pendidikan tinggi, namun faktanya masih banyak yang memilih tidak melanjutkan studi dikarenakan berbagai hal. Kenyataan ini menjadikan mahasiswa sebagai sebuah kelompok elit diantara lingkungan pemuda dan pada masyarakat, sampai pada akhirnya menjadikan sebuah stigma apabila ada kegiatan, tentu yang mahasiswa diharapkan menjadi pemimpin. Padahal belum tentu mahasiswa tersebut mampu menjalankan tugas tersebut.
Berbagai proses yang wajib dilakukan oleh mahasiswa agar terbentuk karakter yang kuat, tercermin dalam tridarma perguruan tinggi. Dimana tridarma terdiri dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Tridarma perguruan tinggi ini sebetulnya tidak menyasar pada mahasiswa saja, dosen juga turut melakukan tridarma karena menjadi aktor penting dari kegiatan yang ada di sebuah perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa harus mau melakukan kegiatan pendidikan, dimana untuk perguruan tinggi, pendidikan yang ada tidak sama dengan pendidikan dasar sampai menengah. Bentuk sederhana dari pendidikan adalah kuliah. Menjadi mahasiswa dengan demikian harus dan wajib mau kuliah. Mengingat di dalam perkuliahan akan diberikan materi terkait jurusan atau prodi yang dipilih. Misalnya adalah, mahasiswa tarbiyah prodi PBA otomatis akan menguasai teknik pembelajaran dan menguasai maharah arba’ yang menjadi ciri khusus dari PBA. Jika mahasiswa tidak masuk dan hanya titip absen belaka, maka ketika lulus dan diwisuda, sampai ketika menjadi tenaga pengajar, dia akan menyampaikan materi apa serta bagaimana penyampaiannya akan dipertanyakan. Menjadi seorang guru yang tangguh dan baik, dimulai dan dapat dilihat dari bagaimana ketika ia berproses menjadi mahasiswa. Jika selama menjadi mahasiswa ia santai dan kurang serius, tentu kelak ketika menjadi guru, tidak banyak perubahan berarti yang dilakukannya.
Penelitian di wilayah mahasiswa ditandai dengan adanya tulisan kritis dari mahasiswa ketika ia melakukan pengamatan mendalam akan realitas sosial. Banyak yang mengasumsikan apabila penelitian sebatas pada tugas akhir mahasiswa, dalam hal ini apabila S1, maka skripsi adalah bentuk penelitian mahasiswa. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, meskipun memiliki beberapa kelemahan. Ketika mahasiswa melakukan perkuliahan dan mendapatkan tugas membuat makalah, misalkan materi perkuliahan pembelajaran bahasa arab, mahasiswa bisa mengungkapkan pengalamannya ketika semasa sekolah dulu serta mengamati proses pembelajaran yang hari ini ada dan terjadi. Dinamika dalam dunia pembelajaran mengalami perubahan karena era revolusi industri 4.0 dengan ciri kemudahan multimedia dan berbasis aplikasi internet memberikan dampak yang luar biasa dalam pendidikan. Sehingga, penelitian sebagai bagian dari tridarma pendidikan tinggi juga mengarahkan mahasiswa melakukan pengamatan atas realitas sosial yang tengah mekar di sekitar mereka.
Pengabdian dalam mahasiswa tidak sebatas ketika mahasiswa tersebut melakukan KKN. Pengabdian dalam konteks perguruan tinggi, membutuhkan penterjemahan yang banyak karena orientasi dari pendidikan dan penelitian yang dilakukan mahasiswa mengarah pada pengabdian yang dilakukannya. Kepada siapa pengabdian tersebut ditujukan, jelas kepada manusia dan kemanusiaan. Manusia adalah obyek atau sasaran dari pengabdian, kemanusiaan adalah nilai dari eksistensi manusia seperti keadilan, kesetaraan, dan pengakuan atas yang lain. Indikator dari keadilan, kesetaraan, dan pengakuan atas yang lain adalah, mampu bekerjasama dengan baik, memberikan apresiasi, saling menghormati, saling menghargai, dan yang semisal.
Tiga hal tersebut, yakni pendidikan, penelitian, dan pendampingan, apabila dilakukan dengan baik dan benar akan menjadikan seorang mahasiswa memiliki karakter kuat sehingga ia memperoleh posisi strategis di dalam masyarakat. Namun apabila seorang mahasiswa kendor di dalam ketiganya, maka masyarakat akan menganggapnya sama  dengan yang lain. Dan parahnya, menguat stigma di masyarakat apabila kuliah dan tidak kuliah pada dasarnya sama saja serta membuang biaya.
Mahasiswa memiliki identitas sosial dalam gerakan nasional sebagai agent of change, agent of control, dan moral agent. Penjelasan dari agent of change adalah, mahasiswa dalam berbagai kejadian sering berperan sebagai aktor perubahan, misalkan adalah tercetusnya sumpah pemuda yang menandai menguatnya rasa identitas kebangsaan Indonesia, peristiwa 45 dengan diculiknya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok dengan tuntutan bahwa sesegera mungkin Republik Indonesia harus memproklamirkan diri, peristiwa 65 dimana menuntut pembubaran PKI dan ormasnya, angkatan 74 dengan kasus sentimen produk Jepang, angkatan 95 yang menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden, dan puncaknya 98 yang menandai runtuhnya Orde Baru. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak lepas dari peran pemuda yang dalam hal ini adalah mahasiswa kritis melihat keadaan di sekitar mereka.
Mahasiswa juga menjadi agent of control kepada pemerintah atau siapapun pemangku kebijakan jika pemerintah menyimpang dari tujuan didirikannya Negara ini. Tidak mengherankan dalam berbagai forum terlihat analisis kritis mahasiswa melihat kebijakan yang tidak populis dan dampaknya pada masyarakat. Atau, mahasiswa mengadakan aksi (demonstrasi) menuntut suatu hal yang dirasakannya kurang sesuai dengan hajat hidup berbangsa dan bernegara.
Mahasiswa sebagai moral agent merupakan pedoman paling penting dalam melakukan kegiatan-kegiatannya karena tidak mendasarkan pada kepentingan apapun selain daripada gerakan moral. Gerakan moral berarti, mahasiswa hanya menuntut apa yang kurang pas untuk diselaraskan dengan moral. Dan moral dalam perspektif mahasiswa adalah nilai-nilai kemanusiaan. Mahasiswa melakukan aksi, melakukan pendampingan, dan hal yang semisal, karena dorongan kemanusiaan, bukan dorongan untuk menjadi terkenal, masuk tivi, dan dorongan lainnya.
Revolusi Industri 4.0 dan Problemnya dalam Perguruan Tinggi
Revolusi industri 4.0 memiliki unsur sinergi antara manusia dan sistem komputer berbasis internet untuk menjalankan produksi. Sistem produksi tidak sekedar mengarah input, proses, maupun out put belaka, namun juga effect atau adakah dampak dari hasil produksi yang dilakukan. Apabila sebuah perusahaan tidak membuat barang yang bermanfaat, tentu hal tersebut membuatnya kalah bersaing dengan produsen lainnya.
Hal sama juga terjadi dalam lingkungan dunia pendidikan. Dimana persaingan antar lembaga pendidikan sampai perguruan tinggi, sudah mengarah kepada seberapa bermanfaat lulusan atau alumni mereka dalam masyarakat. Karena kebermanfaatan alumni atau lulusan, bisa menjadi citra positif lembaga tersebut di dalam masyarakat. Semakin bagus sebuah lembaga pendidikan, tentu tidak sekedar mempertimbangkan unsur input, proses, maupun out put belaka, namun juga melatih mahasiswa memiliki daya saing tinggi di dalam masyarakat agar tetap bisa survive.
Persaingan mutu alumni dengan demikian adalah persoalan keseriusan mahasiswa melakukan proses yang tercermin dalam tridarma serta dosen dan pengelola perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas proses perkuliahan, dan out put yang ada agar alumni perguruan tinggi benar-benar hadir memberikan kemanfaatan bagi sesama dan lingkungan dimana ia berada. Pada saat inilah, menguatkan kesadaran kritis transformatif pada mahasiswa baru STAI-Ma’arif Kendal Ngawi menemukan relevansinya agar mahasiswa kelak menjadi lulusan yang kompeten di bidangnya, dan memiliki kesadaran kuat akan peran sosial di masyarakat.
SPEKTRUM KESADARAN DAN UPAYA MEMBANGUNNYA DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0