Menguatkan Kesadaran Kritis Transformatif Pada
Mahasiswa Di Era Industri 4.0
Moh. Irmawan Jauhari
Pendahuluan
Mahasiswa dalam berbagai agenda nasional dan di
banyak ruang kemasyarakatan memainkan peran penting sebagai avant garde
atau pelopor. Misalkan, peristiwa bersejarah yang akan tetap dikenang dalam
ingatan dan benak bangsa-negara Indonesia, bila para pemuda mengadakan konggres
pemuda pertama tahun 1926 dan konggres pemuda kedua 1928 yang menghasilkan
sumpah pemuda. Tentunya, pemuda dan pemudi yang hadir dalam konggres tersebut
bukanlah pemuda yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Dimana
untuk merumuskan visi misi serta orientasi pemuda dan bahkan mampu melahirkan
sumpah pemuda, para pemuda wajib memiliki basis pengetahuan yang baik. Tidak
hanya pengetahuan yang lahir dari tanah Eropa, namun juga dan khususnya,
pengetahuan yang bersumber dari khazanah intelektualitas nusantara.
Pemuda-pemuda yang ikut konggres, atau yang mewakili para pemuda dari berbagai
daerah di Indonesia, adalah kaum terpelajar yang tergabung dalam berbagai
organisasi. Mereka peduli atas keadaan bangsa yang berada dalam suasana
kolonialisme dan imperialisme, mereka sadar bahwa harus ada upaya yang
sistematis dan terorganisir untuk melakukan perubahan. Dan mereka melakukan
dari hal yang paling sederhana, merumuskan sumpah pemuda untuk menjadi bekal
bagi generasi mendatang.
Dewasa ini, dengan semakin cepatnya
perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, menuntut percepatan juga
di berbagai bidang. Tuntutan untuk semakin tanggap suasana dan memiliki
jaringan bagus dibutuhkan bagi siapapun untuk survive di era industri
4.0. Dorongan-dorongan tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir,
idealisme, dan sampai pada perilaku mahasiswa. Tidak mengherankan apabila
kemudian banyak mahasiswa yang kurang peduli terhadap lingkungan dan masa depan
karena mereka terjebak dalam mainstream permukaan revolusi industri 4.0,
akan tetapi untuk memahami mengapa ada perubahan zaman dan dampaknya bagi
kehidupan, mahasiswa dewasa ini kurang memiliki kepekaan.
Tulisan ini disampaikan pada kuliah perdana
dengan harapan mampu mendorong mahasiswa untuk lebih progres di dalam
perkuliahan dan kegiatan lainnya.
Mahasiswa, karakter, dan identitas sosial
Mahasiswa adalah sebuat predikat bagi seseorang
yang menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa,
berarti memiliki ciri yang bisa digunakan sebagai indentitas sosial ketika
berada dalam masyarakat. Dengan ciri atau karakter tersebut, mahasiswa
mendapatkan tempat tersendiri mengingat berbagai hal. Pertama, tidak semua
orang bisa menembus perguruan tinggi. Kedua, berbagai proses mampu menentukan
karakter mahasiswa. Dan ketiga, tanggung jawab atau identitas sosial yang
didapat sebagai akibat predikat menjadi mahasiswa.
Tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan
tinggi adalah sebuah fakta. Meskipun pemerintah memberikan berbagai kemudahan
untuk siapapun mengakses pendidikan tinggi, namun faktanya masih banyak yang
memilih tidak melanjutkan studi dikarenakan berbagai hal. Kenyataan ini
menjadikan mahasiswa sebagai sebuah kelompok elit diantara lingkungan pemuda
dan pada masyarakat, sampai pada akhirnya menjadikan sebuah stigma apabila ada
kegiatan, tentu yang mahasiswa diharapkan menjadi pemimpin. Padahal belum tentu
mahasiswa tersebut mampu menjalankan tugas tersebut.
Berbagai proses yang wajib dilakukan oleh
mahasiswa agar terbentuk karakter yang kuat, tercermin dalam tridarma perguruan
tinggi. Dimana tridarma terdiri dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Tridarma perguruan tinggi ini sebetulnya tidak menyasar pada mahasiswa saja,
dosen juga turut melakukan tridarma karena menjadi aktor penting dari kegiatan
yang ada di sebuah perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa harus mau melakukan kegiatan
pendidikan, dimana untuk perguruan tinggi, pendidikan yang ada tidak sama
dengan pendidikan dasar sampai menengah. Bentuk sederhana dari pendidikan
adalah kuliah. Menjadi mahasiswa dengan demikian harus dan wajib mau kuliah.
Mengingat di dalam perkuliahan akan diberikan materi terkait jurusan atau prodi
yang dipilih. Misalnya adalah, mahasiswa tarbiyah prodi PBA otomatis akan
menguasai teknik pembelajaran dan menguasai maharah arba’ yang menjadi ciri
khusus dari PBA. Jika mahasiswa tidak masuk dan hanya titip absen belaka, maka
ketika lulus dan diwisuda, sampai ketika menjadi tenaga pengajar, dia akan
menyampaikan materi apa serta bagaimana penyampaiannya akan dipertanyakan.
Menjadi seorang guru yang tangguh dan baik, dimulai dan dapat dilihat dari bagaimana
ketika ia berproses menjadi mahasiswa. Jika selama menjadi mahasiswa ia santai
dan kurang serius, tentu kelak ketika menjadi guru, tidak banyak perubahan
berarti yang dilakukannya.
Penelitian di wilayah mahasiswa ditandai dengan
adanya tulisan kritis dari mahasiswa ketika ia melakukan pengamatan mendalam
akan realitas sosial. Banyak yang mengasumsikan apabila penelitian sebatas pada
tugas akhir mahasiswa, dalam hal ini apabila S1, maka skripsi adalah bentuk
penelitian mahasiswa. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, meskipun
memiliki beberapa kelemahan. Ketika mahasiswa melakukan perkuliahan dan
mendapatkan tugas membuat makalah, misalkan materi perkuliahan pembelajaran
bahasa arab, mahasiswa bisa mengungkapkan pengalamannya ketika semasa sekolah
dulu serta mengamati proses pembelajaran yang hari ini ada dan terjadi.
Dinamika dalam dunia pembelajaran mengalami perubahan karena era revolusi
industri 4.0 dengan ciri kemudahan multimedia dan berbasis aplikasi internet
memberikan dampak yang luar biasa dalam pendidikan. Sehingga, penelitian
sebagai bagian dari tridarma pendidikan tinggi juga mengarahkan mahasiswa
melakukan pengamatan atas realitas sosial yang tengah mekar di sekitar mereka.
Pengabdian dalam mahasiswa tidak sebatas ketika
mahasiswa tersebut melakukan KKN. Pengabdian dalam konteks perguruan tinggi,
membutuhkan penterjemahan yang banyak karena orientasi dari pendidikan dan
penelitian yang dilakukan mahasiswa mengarah pada pengabdian yang dilakukannya.
Kepada siapa pengabdian tersebut ditujukan, jelas kepada manusia dan
kemanusiaan. Manusia adalah obyek atau sasaran dari pengabdian, kemanusiaan
adalah nilai dari eksistensi manusia seperti keadilan, kesetaraan, dan
pengakuan atas yang lain. Indikator dari keadilan, kesetaraan, dan pengakuan atas
yang lain adalah, mampu bekerjasama dengan baik, memberikan apresiasi, saling
menghormati, saling menghargai, dan yang semisal.
Tiga hal tersebut, yakni pendidikan,
penelitian, dan pendampingan, apabila dilakukan dengan baik dan benar akan
menjadikan seorang mahasiswa memiliki karakter kuat sehingga ia memperoleh
posisi strategis di dalam masyarakat. Namun apabila seorang mahasiswa kendor di
dalam ketiganya, maka masyarakat akan menganggapnya sama dengan yang lain. Dan parahnya, menguat
stigma di masyarakat apabila kuliah dan tidak kuliah pada dasarnya sama saja
serta membuang biaya.
Mahasiswa memiliki identitas sosial dalam
gerakan nasional sebagai agent of change, agent of control, dan moral
agent. Penjelasan dari agent of change adalah, mahasiswa dalam
berbagai kejadian sering berperan sebagai aktor perubahan, misalkan adalah
tercetusnya sumpah pemuda yang menandai menguatnya rasa identitas kebangsaan
Indonesia, peristiwa 45 dengan diculiknya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok
dengan tuntutan bahwa sesegera mungkin Republik Indonesia harus memproklamirkan
diri, peristiwa 65 dimana menuntut pembubaran PKI dan ormasnya, angkatan 74
dengan kasus sentimen produk Jepang, angkatan 95 yang menolak pencalonan
Soeharto sebagai presiden, dan puncaknya 98 yang menandai runtuhnya Orde Baru.
Peristiwa-peristiwa tersebut tidak lepas dari peran pemuda yang dalam hal ini
adalah mahasiswa kritis melihat keadaan di sekitar mereka.
Mahasiswa juga menjadi agent of control
kepada pemerintah atau siapapun pemangku kebijakan jika pemerintah menyimpang
dari tujuan didirikannya Negara ini. Tidak mengherankan dalam berbagai forum
terlihat analisis kritis mahasiswa melihat kebijakan yang tidak populis dan
dampaknya pada masyarakat. Atau, mahasiswa mengadakan aksi (demonstrasi)
menuntut suatu hal yang dirasakannya kurang sesuai dengan hajat hidup berbangsa
dan bernegara.
Mahasiswa sebagai moral agent merupakan
pedoman paling penting dalam melakukan kegiatan-kegiatannya karena tidak
mendasarkan pada kepentingan apapun selain daripada gerakan moral. Gerakan
moral berarti, mahasiswa hanya menuntut apa yang kurang pas untuk diselaraskan
dengan moral. Dan moral dalam perspektif mahasiswa adalah nilai-nilai
kemanusiaan. Mahasiswa melakukan aksi, melakukan pendampingan, dan hal yang
semisal, karena dorongan kemanusiaan, bukan dorongan untuk menjadi terkenal,
masuk tivi, dan dorongan lainnya.
Revolusi Industri 4.0 dan Problemnya dalam
Perguruan Tinggi
Revolusi industri 4.0 memiliki unsur sinergi
antara manusia dan sistem komputer berbasis internet untuk menjalankan
produksi. Sistem produksi tidak sekedar mengarah input, proses, maupun out
put belaka, namun juga effect atau adakah dampak dari hasil produksi
yang dilakukan. Apabila sebuah perusahaan tidak membuat barang yang bermanfaat,
tentu hal tersebut membuatnya kalah bersaing dengan produsen lainnya.
Hal sama juga terjadi dalam lingkungan dunia
pendidikan. Dimana persaingan antar lembaga pendidikan sampai perguruan tinggi,
sudah mengarah kepada seberapa bermanfaat lulusan atau alumni mereka dalam
masyarakat. Karena kebermanfaatan alumni atau lulusan, bisa menjadi citra
positif lembaga tersebut di dalam masyarakat. Semakin bagus sebuah lembaga
pendidikan, tentu tidak sekedar mempertimbangkan unsur input, proses,
maupun out put belaka, namun juga melatih mahasiswa memiliki daya saing
tinggi di dalam masyarakat agar tetap bisa survive.
Persaingan mutu alumni dengan demikian adalah
persoalan keseriusan mahasiswa melakukan proses yang tercermin dalam tridarma
serta dosen dan pengelola perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas proses
perkuliahan, dan out put yang ada agar alumni perguruan tinggi
benar-benar hadir memberikan kemanfaatan bagi sesama dan lingkungan dimana ia
berada. Pada saat inilah, menguatkan kesadaran kritis transformatif pada
mahasiswa baru STAI-Ma’arif Kendal Ngawi menemukan relevansinya agar mahasiswa
kelak menjadi lulusan yang kompeten di bidangnya, dan memiliki kesadaran kuat
akan peran sosial di masyarakat.
SPEKTRUM KESADARAN DAN UPAYA MEMBANGUNNYA DALAM
ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0